Dukung Transformasi Ekonomi Hijau yang Ramah Lingkungan, Pemerintah Siapkan Ini

- Kamis, 21 Oktober 2021 | 20:30 WIB
Diskusi Realisasi Energi Baru dan Trebarukan (Tangkapan layar Zoom)
Diskusi Realisasi Energi Baru dan Trebarukan (Tangkapan layar Zoom)

HALLO DEPOK - Berkurangnya produksi energi fosil terutama minyak bumi serta komitmen global dalam pengurangan emisi gas rumah kaca, mendorong pemerintah untuk meningkatkan peran energi baru dan terbarukan secara terus menerus sebagai bagian dalam menjaga ketahanan dan kemandirian energi. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif menyampaikan, pemerintah menetapkan arah kebijakan energi nasional berupa transisi dari fosil menjadi energi baru terbarukan (EBT).

Upaya ini dilakukan dalam rangka mendukung transformasi ekonomi hijau yang menitikberatkan pada perlindungan lingkungan melalui pembangunan rendah karbon. “Arah kebijakan energi nasional ke depan adalah transisi dari energi fosil menjadi energi baru terbarukan sebagai energi yang lebih bersih, minim emisi, dan ramah lingkungan,” ujar Arifin di acara  Tempo Energy Day 2021, Kamis (21/10).

Sesuai PP No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, target bauran energi baru dan terbarukan pada tahun 2025 paling sedikit 23 persen dan 31 persen pada tahun 2050.

Dia menambahkan, pemerintah saat ini sedang menyusun Grand Strategy Energi Nasional yang bertujuan untuk mewujudkan bauran energi nasional berdasarkan prinsip keadilan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan guna terciptanya ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi.

Arifin menjelaskan dokumen itu telah memetakan rencana penambahan kapasitas pembangkit energi baru terbarukan sebesar 38 gigawatt sampai 2035 dengan memprioritaskan pengembangan energi surya. Menurutnya, pembangkit energi surya dipilih karena biaya investasi yang relatif lebih rendah dan waktu implementasi yang lebih singkat, serta membuka peluang listrik energi baru terbarukan melalui ASEAN Power Grid.

ASEAN Power Grid merupakan program yang dimandatkan oleh para Kepala Negara ASEAN yang bertujuan guna mencapainya integrasi ekonomi di Asia Tenggara, yaitu menciptakan kawasan ekonomi regional yang berdaya saing tinggi di bidang pembangunan infrastruktur, perusahaan energi, teknologi informasi dan komunikasi, serta pengembangan usaha kecil menengah.

Dia menegaskan tidak ada penambahan baru untuk pembangkit listrik tenaga uap, kecuali yang telah tanda tangan kontrak sebelumnya atau memasuki tahap konstruksi, serta retirement pembangkit fosil dilakukan bertahap sesuai dengan umur pembangkit.

Arifin mengatakan pembangkit energi bersih ini adalah bagian dari komitmen Indonesia menjalankan Paris Agreement. Di dalamnya, Indonesia bakal menurunkan emisi gas rumah kaca 29 sampai 41 persen pada 2030. Sektor energi diharapkan berkontribusi untuk menurunkan 314 sampai 398 juta ton CO2 emisi. Sehingga, pemerintah juga telah menyusun roadmap net zero emission 2021-2060. Strategi utamanya yaitu bauran energi bersih di 2060 bisa tercapai 100 persen.

Halaman:

Editor: Shafira Thalia

Tags

Terkini

Melaju, Harga Emas Antam Kini Rp956.000 per Gram

Kamis, 18 November 2021 | 09:44 WIB

Awal Pekan, Harga Emas Anteng di Rp955.000 per Gram

Senin, 15 November 2021 | 10:49 WIB

Harga Emas Antam Melejit ke Posisi Rp951.000 per Gram

Kamis, 11 November 2021 | 11:34 WIB

Penjualan Eceran Tumbuh Meningkat Pada Oktober 2021

Selasa, 9 November 2021 | 19:25 WIB

Harga Emas Antam Nangkring Rp945.000 per Gram

Senin, 8 November 2021 | 10:13 WIB
X