Tahfid, Musik dan Otak Manusia

- Kamis, 16 September 2021 | 20:57 WIB
Penggalan Video di Instagram Hendropriyono
Penggalan Video di Instagram Hendropriyono
Oleh: Badrul Munir *)
 
HALLO DEPOK - Polemik santri tutup telinga saat menunggu vaksin agar tidak mendengar musik menjadi pembicaraan hangat di media sosial dan mengingatkan lagi  posisi seni musik dalam  Islam.
 
Kerja Otak
 
Dalam otak manusia, memori  dan seni (musik) diatur secara unik dan pada bagian otak yang berbeda. Proses memori (termasuk menghafal Qur'an)  lebih banyak dilakukan otak sebelah kiri terutama di bagian hipokampus, amigdala dan ethoinic.
 
Menghafal Qur'an sangat berkorelasi dengan stimulus yang masuk ke otak melalui  panca indra untuk membuat hubungan saraf untuk  hafalan Qur'an ( bisa kita sebut dengan istilah "sinap Qur'an").
 
Untuk membuat sinaps  tersebut maka hal yang penting adalah memastikan hanya sinaps positif yang berhubungan dengan hafalannya (Qur’an) yang masuk ke dalam otaknya dan mendominasi ruang penyimpanan memori.
 
Maka tidak mengherankan para santri yang sedang menghafal  Qur’an sangat menjaga diri dan terkesan menutup diri dari lingkungan luar demi keberhasilannya menghafal 30 juz.
 
Setiap saat mereka menghafal berulang dan menyetor hafalannya (murojaah) ke Kyai/Ustad untuk diketahui progresifitas hafalannya.
 
Yang menyedihkan kadang memori hafalan yang sudah berhasil dikerjakan terlupa lagi diakibatkan kurangnya mengulang (murojaah) atau ada stimulus negatif lain yang masuk ke dalam otak manusia sehingga menghilangkan hafalan yang sudah ada.
 
Seni Musik
 
Sedangkan seni (musik) di dalam otak manusia dikendalikan terutama bagian otak kanan  atau hemisfer dekstra, jutaan sel otak bekerja dengan mengagumkan sehingga sering tercipta karya seni  bernilai tinggi.
 
Dalam perjalanan manusia,  seni sangat berperan dalam membentuk peradapan manusia, bahkan seni (musik) saat ini digunakan sebagai salah satu terapi di beberapa penyakit. Hal ini karena bisa menurunkan stress dengan menurunkan kadar kortisol, mengurangi kecemasan dan  meningkatkan konsentrasi.
 
Beberapa penelitian juga menunjukkan menikmati seni juga meningkatkan aliran darah 10% di daerah otak yang mengatur kesenangan, meningkatkan kadar serotoin yang bagus untuk proses plastisitas otak.
 
Dalam kenyataan sehari-hari seorang santri  tahfid tidak antipati dengan seni termasuk seni musik, justru banyak tahfid yang juga sebagai seniman seperti penyair, penyanyi religi, kelompok nasyid,  kaligrafi, kelompok seni shalawat dan lainnya.
 
Tentunya seni yang pilih parah tahfid adalah seni yang bisa mendekatkan diri ke Tuhannya dan tetap bisa menjaga hafalannya, bukan seni yang melenahkan apalagi seni yang menjurus kemunkaran dan kemaksiatan yang sedang begitu marak di sekitar kita.
 
Apakah musik yang didengar saat santri tahfid menunggu vaksin termasuk musik yang tidak kondusif untuk hafalan mereka sehingga mereka menutup telinga untuk menjaga hafalannya? Waallahu a'lam bis showab.
 
Mari bertoleransi dan jangan mudah menstigma negatif ke sesama.
 
*) Neurolog, dosen dan penulis buku

Editor: Shafira Thalia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengenal Badai Matahari

Sabtu, 23 Oktober 2021 | 14:09 WIB

ISEF Giatkan Produk Muslim Menuju Komoditi Global

Rabu, 20 Oktober 2021 | 20:59 WIB

Intip 6 Gaya Elegan Sari Nila Pemeran Mama Rosa

Senin, 18 Oktober 2021 | 22:19 WIB

Croctober, Snap Bitmoji Seru dari Crocs

Jumat, 15 Oktober 2021 | 05:55 WIB

Stres di Masa Pandemi? 4 Manfaat Pijat untuk Terapi

Jumat, 15 Oktober 2021 | 05:24 WIB

Ini Tips Buang Sampah Obat dengan Benar

Rabu, 13 Oktober 2021 | 21:02 WIB

Depresi Bukan Tanda Kelemahan

Minggu, 10 Oktober 2021 | 20:02 WIB
X