Ilmuwan Bantah Varian Omicron Tak Berbahaya

- Selasa, 15 Februari 2022 | 20:13 WIB
Ilustrasi virus corona (Pixabay)
Ilustrasi virus corona (Pixabay)

HALLO DEPOK - Varian Omicron pertama kali didokumentasikan di Botswana dan Afrika Selatan pada akhir November 2021. Meskipun tiga gelombang infeksi sebelumnya dan program vaksinasi dimulai pada pertengahan 2021, varian ini dengan cepat menyebar ke seluruh populasi Afrika Selatan. 

Dibandingkan dengan varian sebelumnya, Omicron menghasilkan tingkat rawat inap dan kematian yang lebih rendah, membuat beberapa orang menyimpulkan bahwa varian tersebut menyebabkan penyakit Covid-19 yang tidak parah alias kurang ganas dibandingkan varian sebelumnya.

Hanage dan Bhattacharyya membantah hal itu, dan mengatakan bahwa tingkat keparahan infeksi Omicron yang dirasakan lebih rendah kemungkinan besar disebabkan oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan tingkat kekebalan pada orang yang terinfeksi. 

Varian Omicron diklaim menyebabkan sakit yang lebih ringan. Hal ini kemungkinan dipicu oleh lebih banyak kekebalan populasi daripada sifat virus itu sendiri, demikian menurut sebuah makalah dari William Hanage, profesor epidemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health, dan Roby Bhattacharyya, asisten profesor di Massachusetts General Hospital dan Harvard Medical School dan koleganya dalam sebuah artikel Perspektif yang diterbitkan secara daring di New England Journal of Medicine, belum lama ini.

Pada musim gugur 2021, sebagian besar penduduk Afrika Selatan telah divaksinasi atau mungkin terinfeksi oleh varian lain selama gelombang pandemi sebelumnya. Paparan sebelumnya ini kemungkinan akan mengurangi keparahan infeksi Omicron berikutnya. 

Kedua peneliti menambahkan, gejala yang lebih ringan mungkin juga sebagian disebabkan oleh kemampuan Omicron memicu adanya infeksi terobosan dan infeksi ulang, termasuk pada orang yang memiliki sistem kekebalan yang lebih kuat dan oleh karena itu lebih siap untuk melawan infeksi.

Mereka mengingatkan bahwa situasi di Afrika Selatan secara intrinsik berbeda dengan negara lain – terutama penduduk usia muda – yang berarti bahwa Omicron dapat berkembang secara berbeda di populasi lain di seluruh dunia.

Berdasarkan analisisnya, Hanage dan Bhattacharyya menekankan bahwa sebanyak mungkin orang di dalam negeri dan global harus divaksinasi, dan mereka yang paling rentan terhadap penyakit harus menerima suntikan ketiga/booster, demikian dikutip dari laman MedicalXpress.***

 

Halaman:

Editor: Shafira Thalia

Tags

Terkini

8 Tips PS5 yang Harus Anda Ketahui

Selasa, 11 Oktober 2022 | 22:11 WIB

Ini Kiat Rebut Hadiah US$ 3 Juta dari ZSP

Minggu, 24 Juli 2022 | 23:31 WIB

Cara Mudah Test Drive Mobil Toyota di Auto2000

Rabu, 16 Maret 2022 | 14:30 WIB

Auto2000 Gunakan Robot untuk Melayani Customer

Rabu, 9 Maret 2022 | 17:06 WIB

Efek Macet, Bisa Sebabkan Penguapan Oli Mobil?

Minggu, 6 Maret 2022 | 06:22 WIB

Cara Timbulkan Self Love Bagi Wanita: Ubah Pola Pikir

Senin, 28 Februari 2022 | 13:58 WIB

Pusing dan Sakit Kepala? Mungkin Terinfeksi Omicron

Selasa, 15 Februari 2022 | 20:19 WIB

Ilmuwan Bantah Varian Omicron Tak Berbahaya

Selasa, 15 Februari 2022 | 20:13 WIB

Amankah Memasang Roof Box di Atap Mobil? Ini Tipsnya

Senin, 7 Februari 2022 | 16:54 WIB

Resmi, Daimler AG Berubah menjadi Mercedes-Benz AG

Sabtu, 5 Februari 2022 | 17:23 WIB

Promo KFC di Bulan Februari 2022

Selasa, 1 Februari 2022 | 17:53 WIB

Ini 3 Lensa Lucu Bertema Imlek dari Snapchat

Jumat, 28 Januari 2022 | 16:45 WIB

Terpopuler

X